Dear Life #1

Pagi ini kulalui secara normal dan biasa, kurasa terlalu normal untuk takaran kehidupanku yang seharusnya disini. Kalian mungkin berfikir bahwa aku adalah seseorang yang aneh dan berlebihan, tapi demi segala sesuatu yang pernah dipertaruhkan, kalian akan bergidik jika mengetahui bagaimana seharusnya hariku biasanya.

Pagi yang begitu tenang ini kurasa disebabkan oleh ketidakhadiran sosok Elisa di rumah. Entahlah dia sedang mencoba merayu pria kaya mana lagi dengan tubuhnya. Yang jelas aku saat ini cukup bersyukur saat tahu Elisa tidak disini, setelah dia menghabiskan semalam suntuk untuk memarahi dan juga melempariku dengan semua benda yang dapat dijangkau oleh tangannya dan juga mengeluarkan semua sumpah serapah yang tidak sepantasnya diucapkan oleh wanita.

Elisa memang seperti itu. Tidak pernah ragu melakukan apapun padaku walau sekejam dan setidakmanusiawi apapun itu. Dimatanya aku selalu salah dan juga aku sendiri merupakan kesalahan yang katanya menghancurkan seluruh hidupnya. Elisa membenciku dengan segenap jiwanya.  Siapa yang tidak mengetahui itu? Bahkan seluruh inci di rumah ini juga dapat bersaksi bagaimana selama 15 tahun ini aku berjuang menahan diri dari Elisa.

Elisa sebenarnya adalah mamaku. Namun dulu pernah sekali saja aku pernah memanggilnya mama, yang kudapatkan adalah makian bercampur ledakan amarahnya yang luar biasa mengerikan. Saat itu, Elisa bahkan menggunting rambutku dan mengancam akan memotong lidahku bila aku menyebutnya mama lagi,- yang hingga saat ini tidak pernah ku lakukan-.

Aku bukanlah orang yang takut mati. Setelah apa yang aku alami, kalian pasti akan maklum apabila kalian mendapatiku gantung diri di balkon kamar atau meneggak seluh obat-obatan di dapur atau lebih buruk lagi mengiris urat leherku yang dapat membuatku menemui Tuhan dengan lebih cepat.

Mengapa aku tidak memilih untuk mati saja? Aku tidak mencoba untuk munafik pada diriku sendiri, kalau fikiran tentang itu kerap datang berulang kali. Hariku terlalu berat dan sulit untuk anak seusiaku yang harusnya bahagia dan dimanja oleh orang tua mereka. Namun hanya satu yang membuatku bertahan. Memikirkan bahwa Tuhan menciptakanku karena Tuhan menginginkanku.

Aku bukanlah orang yang terlampau agamis hingga dapat dokatagorikan sebagai seseorang yang religius, aku juga masih sering melakukan dosa dan melakukan pantangan yang dilarang Tuhan. Tapi selama waktu yang berjalan di hidupku, aku senantiasa percaya bahwa Tuhan itu ada dan aku selalu merasa terkadang Dialah yang menguatkan dan memberiku semangat.

Aku memiliki seorang sahabat. Kurasa dia adalah salah satu malaikat perantara Tuhan yang dikirimkan untukku. Malaikat itu bernama Luna. Aku sedikit tidaknya, bersyukur karena Elisa masih mau mebiayai sekolahku dan juga mau mencatatkan dirinya sebagai wali sahku sehingga aku dapat masuk sekolah dan bergaul dengan teman-teman sebayaku, meskipun dibelakang ia kerap kali mabuk-mabukan dan menggerutu tentang mahalnya biaya pendidikan di sekolah.

Tentang Luna, kami pertama kali bertemu saat aku sedang sendirian duduk untuk makan siang di sekolah baruku. Saat itu aku baru berumur 14  tahun dan baru saja masuk ke salah satu SMA favorit di daerah ini karena prestasiku yang dikatai orang luar biasa ini.

Aku yang terlalu pengecut unuk memulai sebuah hubungan dengan dunia luar, sehingga terus mencoba berlagak acuh dengan suasana sekelilingku yang ramai dengan orang-orang baru yang saling berkenalan satu sama lainnya. Dan saat itulah Luna datang dan merobohkan antipatiku dengan senyuman tulusnya. Menawariku menjadi teman duduknya.

Aku tersentak dari lamunanku. Kulirik jam yang ada di ruang tamu. Ya ampun aku telah menghabiskan setengah jam hanya untuk menghayal. Sejenak mengingat tentang masa lalu memang mengasyikan, namun sekarang aku harus segera menyelesaikan tugas rumah dan bersiap untuk ke sekolah sebelum terlambat dan juga sebelum Elisa pulang, batinku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW NOVEL : ROMANO by Nadine Zulia Putri